matematika korelasi vs kausalitas

mengapa dua kejadian beruntun belum tentu berhubungan

matematika korelasi vs kausalitas
I

Pernahkah kita menyadari sebuah fakta statistik yang sangat aneh? Dari tahun 1999 sampai 2009, setiap kali aktor Nicolas Cage membintangi film baru, jumlah orang yang tenggelam di kolam renang Amerika Serikat ikut meningkat. Kalau kita jejerkan grafiknya, dua garis tersebut naik dan turun secara bersamaan. Sangat presisi. Pertanyaannya, apakah Nicolas Cage memiliki kekuatan mistis yang membuat orang lupa cara berenang? Atau jangan-jangan, aktingnya membuat orang frustrasi lalu menceburkan diri ke kolam? Tentu saja tidak. Terdengar konyol, bukan? Namun, jujur saja, otak kita sempat berhenti sejenak dan mencoba mencari benang merah antara dua kejadian acak tersebut. Kita langsung bertanya-tanya, "kok bisa ya?"

II

Keinginan kita untuk menghubungkan Nicolas Cage dengan kolam renang itu sangat wajar. Secara psikologis dan evolusioner, otak manusia memang didesain sebagai mesin pencari pola yang luar biasa agresif. Ratusan ribu tahun yang lalu, nenek moyang kita bertahan hidup karena kemampuan ini. Ketika mereka melihat rumput bergoyang, mereka langsung menyimpulkan ada harimau di baliknya. Mereka yang lari, selamat. Mereka yang diam dan menunggu bukti ilmiah yang valid, habis dimakan. Insting bertahan hidup inilah yang diwariskan kepada kita. Otak kita benci ketidakpastian. Kita selalu ingin mencari tahu mengapa sesuatu terjadi, dan biasanya, kita mengambil kesimpulan paling mudah: jika kejadian B muncul tepat setelah kejadian A, pasti A adalah penyebabnya. Dalam sejarah filsafat dan logika, jebakan pikiran ini begitu terkenal sampai orang Romawi kuno memberinya nama khusus, yaitu post hoc ergo propter hoc. Artinya, setelah ini, maka karena ini.

III

Namun, dunia modern tidak sesederhana padang rumput tempat nenek moyang kita berburu. Jebakan post hoc ini sering kali membuat kita tersesat. Mari kita ambil contoh sehari-hari. Kita sakit kepala, lalu minum teh herbal buatan tetangga. Tiga jam kemudian, sakit kepalanya hilang. Wah, teh herbal ini pasti obat ajaib! Tapi tunggu dulu. Apakah benar teh itu yang menyembuhkan? Atau jangan-jangan sakit kepala kita hilang karena kita kebetulan tidur siang setelah meminumnya? Atau memang tubuh kita sudah memproduksi antinyeri alami dalam tiga jam tersebut? Di sinilah ketegangan logika mulai terjadi. Kita dihadapkan pada misteri sehari-hari yang menjebak. Kalau dua hal yang terjadi berurutan belum tentu saling menyebabkan, lalu bagaimana cara kita membuktikan kebenarannya? Di titik manakah insting kita harus berhenti, dan ilmu pasti harus mengambil alih?

IV

Inilah saatnya kita berkenalan dengan aturan emas dalam dunia matematika dan statistik. Sebuah rahasia besar yang memisahkan kebetulan dari kenyataan. Aturan itu berbunyi: korelasi bukanlah kausalitas. Korelasi sekadar memberitahu kita bahwa dua kejadian bergerak bersamaan, seperti tarian yang kebetulan seirama. Sementara kausalitas adalah hubungan sebab-akibat yang nyata, di mana satu kejadian secara harfiah memaksa kejadian lain terjadi. Lalu, kenapa dua hal bisa memiliki korelasi kuat kalau tidak saling menyebabkan? Jawabannya ada pada konsep matematika yang disebut confounding variable atau variabel perancu. Ini adalah aktor ketiga yang bersembunyi di balik layar. Misalnya, ada data yang menunjukkan bahwa ketika penjualan es krim meningkat, angka serangan hiu di pantai juga meroket. Apakah makan es krim memanggil hiu? Tidak. Variabel perancunya adalah "musim panas". Saat suhu panas, banyak orang makan es krim. Di saat yang sama, banyak orang berenang di pantai, yang berujung pada tingginya risiko bertemu hiu. Begitu juga dengan Nicolas Cage tadi. Itu hanyalah murni kebetulan statistik yang di dalam matematika disebut sebagai spurious correlation atau korelasi palsu.

V

Teman-teman, menyadari perbedaan antara korelasi dan kausalitas bukanlah sekadar latihan matematika di atas kertas. Ini adalah tameng pelindung untuk pikiran kita. Di dunia yang penuh dengan hoaks, klaim kesehatan palsu, dan janji manis politisi, kita sering disodori data yang seolah-olah masuk akal. Memahami bahwa dua kejadian beruntun belum tentu berhubungan akan membuat kita lebih bijak. Kita jadi tidak mudah menghakimi. Kita jadi lebih tenang menghadapi ketidakpastian. Terkadang, alam semesta ini memang penuh dengan kebetulan yang acak dan menggelitik, dan kita tidak perlu mencari kambing hitam untuk setiap hal yang terjadi. Mari kita beri ruang bagi otak kita untuk bernapas. Mulai sekarang, setiap kali kita melihat dua hal yang terjadi bersamaan, mari kita tersenyum, tarik napas panjang, dan bertanya dalam hati: apakah ini sebab-akibat yang nyata, atau sekadar Nicolas Cage dan kolam renang?